Kenangan dengan seorang "Pak Tua"
Pagi di hari Minggu..aku diantar Uda Nedi dan Beben ke St.Hall, Bandung. Hari ini aku balik ke Jakarta setelah 3 hari di Bandung. Baru kali ini aku balik sendiri. Sebuah majalah sudah kusiapin untuk dibaca-baca selama dalam perjalanan..aku tidak begitu suka ngobrol dengan orang yang tidak dikenal.
Aku mencari tempat dudukku..9B, mana ya? Sip, ini dia kursinya..tapi aku belum bisa duduk karena seorang ibu sedang membereskan barang-barangnya. Aku melirik ke kursi disebelahku, seorang Bapak-bapak berumur 50 an telah duduk dengan rapi sambil memangku jaketnya. Wajahnya sangat serius, sepertinya keturunan India atau Arab? Aku tidak tau. Duuh..gimana nanti nih..aku bakal mati gaya..tapi aku sempet berfoto dulu sih sebelum para bodyguardku
turun..hehehe..
Petugas memberi aba-aba..kereta akan segera berangkat..aku segera mengeluarkan majalah. Sudut mataku melirik ke si Bapak..dia cuman duduk sambil memandang lurus ke depan. Hm..sementara
aman nih..sepertinya dia tidak berminat buat mengobrol denganku..
Aku sedang membenarkan posisi dudukku ketika si Bapak itu mulai bicara perlahan..(oh tidak..).
Bapak : Dua orang tadi saudaramu, ya?
Aku tergagap..langsung masang muka senyum sambil mengangguk.
Bapak : Kamu mau kemana?
Aku bingung, ini kan kereta ke Jakarta. Mungkin dia bertanya tepatnya kemana kali ya?.
Aku : Saya mau ke Depok, Pak.
Bapak : Depok itu dimana? Masih di Jakarta ya?
Gubrak!! Hatiku mulai gak tenang, masa sih Bapak itu tidak tau Depok. Tapi tetap kujawab.
Aku : Depok itu antara Jakarta-Bogor, sebelah selatan Jakarta.
Dia mengangguk-angguk. Aku jadi penasaran dan balik nanya ke si Bapak.
Aku : Kalo Bapak Jakarta mana? (sok yakin)
Bapak : (menggeleng) Saya mau ke Medan, nak. Pesawat siang nanti.
Aku : Bapak tinggal di Medan ya?
Bapak : Iya, makanya saya tidak tau Depok. Saya ke Bandung buat menghadiri wisuda anak saya.
Aku menganggguk-angguk.
Aku : Bapak sendirian balik ke Medan?
Bapak : Iya, istri saya masih di Bandung. Saya harus segera balik, karyawan saya sudah menunggu.
Obrolan terhenti, petugas kereta membagikan kotak makanan dari restorasi. Hm..kebetulan, aku blom sarapan nih. Kita lalu membuka kotak makanan.
Aku : Mari makan, Pak..
Bapak : (tersenyum)..silakan, kamu saja..Saya tidak biasa makan kue seperti ini sambil melirik kotak kuenya. Terbuat dari telur!
Aku mikir2, kayaknya semua kue terbuat dari telur deh..
Aku : (sok tau) Bapak alergi telur ya?
Bapak : Tidak juga, cuma saya tidak biasa..kebetulan saya punya toko roti di Medan, satu lagi ada di Surabaya. Roti saya unik..tidak menggunakan telur..
Dia terus bercerita tentang rotinya dan agak berpromosi menurutku..hihihi..dia bercerita soal pengolahannya yg khas sehingga menghasilkan roti bermutu tinggi, beraroma harum dan katanya gigitan pertama akan meninggalkan kesan yang dalam..ck..ck..ck..membuat ketagihan. Dia mengaku
kalo rotinya dijual dengan harga yang cukup mahal. Aku tidak bisa membayangkan..bagiku kue yg sekarang ini aja udah cukup enak ditambah dengan perutku yang lapar banget. Aku cuman senyum2
aja mendengarkan.
Bapak : Tapi usaha saya ini kurang mendapat dukungan dari teman2 saya..sebenarnya saya baru memulai usaha roti ini. Mereka bilang saya sudah tua, ngapain bikin usaha begituan..ikut bikin
adonan roti di dapur lagi..Pernah seorang kolega datang mencari saya untuk suatu bisnis, dia tidak mengenali saya karena penampilan saya, berlepotan dengan adonan roti.
Hm, sebenarnya saya punya usaha jahit yang lumayan maju..dan saya mendapatkan keuntungan yang besar, bisa dibilang pelanggan usaha saya adalah orang-orang yang mementingkan kualitas dari
pada harga..orang-orang dari kalangan atas.
Biarpun dia bicara seperti itu, aku tidak melihat sedikitpun dia ingin menyombong..wajahnya tetap tenang. Dia lebih menekankan pada betapa kita tidak harus dibatasi oleh umur untuk berusaha, meski orang memandang sebelah mata usaha tersebut. Selagi Allah memberi umur, maka pergunakanlah waktu yang disedia in itu sebaik-baiknya. Dia terus bercerita sambil sesekali menyelipkan nasihat, kejujuran, totalitas dll aku tidak begitu ingat..aku begitu takjub dengan omongannya. Ceritanya terus bergulir, mulai dari perjuangannya sebagai pedagang kecil, menjual dompet, sampai menjadi pengusaha yang cukup disegani.
Bapak : Kalau kamu disuruh membersihkan meja oleh bosmu, maka kamu harus tau yang disebut meja itu apa..meja terdiri dari papan bagian atas, laci, kaki dll..bersihkanlah semua bagian meja itu..jangan sampai bosmu harus mengulangi perintahnya lagi.
Hm..menurut penilaianku Bapak yang duduk disebelahku ini bukan main-main. Sepertinya dia seorang pengusaha terkenal, konglomerat kali ya?

tapi memiliki pemikiran yang sangat dalam.
Aku seperti berhadapan dengan seorang psikolog yang suka muncul di tv-tv.
Bapak : Saya sering dipanggil pada acara-acara tertentu, disuruh menceritakan pengalaman hidup saya hingga seperti sekarang ini..
Dan dia bercerita soal seminar yg pernah ia ikuti baik di dalam maupun di luar negeri. Hm..tebakanku benar..
Bapak : Kamu asli mana?
Aku : Oh..saya orang Padang, Pak..sejak kuliah saya pindah ke Depok.
Bapak : Orang tuamu?
Aku : Ibu tinggal di Bukittinggi..
Pembicaraan mengarah ke orang tua. Kembali dia bercerita, sambil sesekali menyelipkan nasehat.
Bapak : Yang paling penting dalam hidup, sayangi, hargai dan ladeni ayah ibumu. Merekalah orang yang paling berkorban demi segala kebahagiaanmu..kalo selama ini kamu blom pernah bawa in kwietiau (kenapa kwietiau ya?) buat ibu, bawa kanlah untuknya..ibumu tidak akan melihat enak atau tidaknya makanan itu, ibu mana yang tidak akan bahagia mendapat perhatian dari anaknya..mungkin kita anggap apalah artinya semangkok kwietiau..tapi perbuatan memberi itulah yang akan membekas di hati si ibu..
Aku melirik ke si Bapak..matanya mulai berkaca-kaca..sepertinya teringat sesuatu.
Bapak : Saya teringat Bapak saya, dulu kalau saya datang..Bapak saya selalu membuka bajunya sambil menepuk-nepuk dada..'kedatanganmu selalu membuat lapang hati ini, Nak'..
Subhanallah..pastilah Bapak disebelahku ini anak yang sangat disayangi orang tuanya..mungkin karena cinta dan baktinya pada orang tua.
Bapak : Dulu ibu saya pernah sakit keras dan harus berobat keluar negeri. Para kolega di luar negeri menawarkan rumahnya untuk tempat tinggal saya dan ibu. Tapi saya menolaknya..bukan
karena apa-apa, tapi karena saya tidak mau melihat ibu sedih. Ibu saya sering buang air kecil karena penyakitnya..bisa berpuluh-puluh kali dalam sehari..saya takut kolega saya itu akan jijik..dan ibu akan sedih karenanya..
Subhanallah..betapa Bapak itu sungguh menjaga perasaan ibunya.
Bapak : Ketika di RS sana, ada seseorang yang tidak saya kenal mendatangi saya dan menawarkan rumahnya untuk tempat tinggal saya dan ibu selama pengobatan. Saya cerita kalo ibu saya punya
kebiasaan pipis yang tidak normal. Orang itu mengatakan tidak masalah. Akhirnya saya menerima tawarannya. Tinggal di sebuah apartemen kecil. Saya bertanya padanya, apa tidak takut dengan
orang asing, saya bisa aja berniat jahat dengan anda..Orang itu menjawab..'saya orang miskin, saya niatnya tulus untuk bantu Bapak merawat Ibu, saya kagum melihat Bapak yang begitu sabar
merawat ibu, datang jauh-jauh dari Indonesia, saya cuma punya apartemen kecil, tidak punya barang mewah, saya serahkan semua-nya pada Tuhan..'
Akhirnya setelah beberapa bulan si Ibu mulai pulih dan mereka balik ke Indonesia.
Bapak : Saya menelpon ke orang yg dulu bantu saya itu..memintanya ke Indonesia. Tapi dia bilang tidak punya uang buat ke Ina..saya terus-menerus memaksanya..dia tetap tidak mau
meskipun biayanya semua saya yg tanggung dan apa yg dia mau akan saya kasih. Berkali-kali saya menelponnya..akhirnya dia menerima. Ketika dia sampai di depan rumah saya, dia langsung
terpana 'Bapak, kalo saya tau Bapak sekaya ini, saya tidak berani menawarkan rumah saya yg buruk..kenapa Bapak mau tinggal bersama saya? Sekarang Bapak mengijinkan saya menginap di
rumah ini..saya malu Pak.' Saya membalas ucapannya 'Semua yg saya berikan buat Anda belum ada apa-apanya..Anda dulu menawarkan sebuah rumah untuk tempat tinggal saya dan ibu tanpa berharap apa-apa dari saya..sementara saya melakukan ini semua, mengundang Anda ke sini, karena saya punya hutang budi . Sesungguhnya sayalah yg harus malu..'
Bapak : Kamu bosan ya, denger ocehan Pak Tua ini?
Aku langsung menggeleng cepat..jujur aja sepanjang perjalanan aku benar-benar hanya memperhatikannya. Hal yang tidak pernah kulakukan selama ini..mengobrol berjam2 dengan orang yg baru aku kenal.
Bapak : Kamu minumlah dulu..dari tadi saya liat kamu cuma mendengarkan saya..
Sekarang Bapak itu benar-benar mengeluarkan air matanya..aku pun ikut-ikutan netesin air mata..kayak di sinetron2 aja yah..
Masih banyak pengalaman hidupnya yg benar-benar menyentuh..perjalanan Bandung-Jakarta terasa begitu singkat..tiba-tiba kereta sudah berhenti di Gambir. Kami pun menghentikan
obrolan..sebenarnya aku masih ingin berlama-lama, banyak yang ingin kutanyakan padanya.
Bapak : Lily, bawaan Bapak banyak sekali..kamu bisa bantu satu tidak?
Aku : Oh iya, Pak..
Ketika seorang tukang angkat barang mendatangi kami, dengan tegas dia menggeleng.
Bapak : Saya dijemput oleh salah satu kolega saya, padahal saya sudah menolaknya..Kamu sendiri bagaimana?
Aku : Oh..saya tinggal naek bis sekali lagi, Pak
Kami berjalan di peron. Tiba-tiba..Pak..Pak..ada yg manggil2. Seorang laki-laki muda bersama istri dan anaknya. Hm..sepertinya eksekutif muda nih..Si Bapak tersenyum. Tangannya masih
penuh dengan barang bawaan..'Wah barang Bapak banyak amat', katanya.
Bapak : Kenalkan ini Lily, teman perjalanan saya dan dia membantu angkat barang saya..
Aku malu banget..cuman bantu gitu doang.
Laki2 muda itu tersenyum sekilas. Habis itu dia langsung manggil tukang angkat barang. Aku melirik ke si Bapak. Keliatan wajah si Bapak berubah.
Bapak : Kamu tidak usah panggil2 tukang angkat barang..tangan saya masih cukup kuat kok..saya mau angkat barang sendiri saja. Lily, jangan kasih barang itu. Ayo kita jalan..
Eksekutif muda itu tertegun..'Pak, biar orang2 ini saja yg mengangkatnya.' Aku tau, si Bapak tidak suka dengan cara si eksmud yg rada memerintah ke tukang angkat barang.
Bapak : Ayo kita jalan..
'Oke..oke, maaf mas tidak jadi ya', kata si eksmud pada tukang angkat barang. Akhirnya si eksmud meraih bawaan si Bapak yg aku pegang. Melihat situasi gak enak itu aku pamitan.
Bapak : Kamu hati-hati ya..terima kasih atas bantuannya. Apa mau diantar dulu?
Aku : Terima kasih, Pak..tidak usah..Selamat jalan, Pak Yani..Semoga lain waktu kita berjumpa lagi..
Bapak itu tersenyum padaku..senyuman yg sangat kebapakan..wajahnya seperti melepas kepergian
anaknya saja..Aku berbalik arah.. tiba-tiba air mata ini kembali mengalir perlahan..mengiringi langkahku di peron. Ada yang hilang rasanya..Bapak itu telah mengingatkanku akan seseorang..